BEGITU, YANG.

20210722_062742.jpg

Lupakan dulu sedikit hal saya tahu soal penulis yang gemar sekali mengorek masa lalu dalam setiap karyanya. Kali ini saya menyoroti dua kata sesuai judul.

Setiap selesai membaca tulisan Bandung Mawardi (BM) di buku ini, seperti diingatkan pada salah satu motivator terkenal Indonesia yang selalu menutup sesi dengan kata "Itu!" 😄 Bedanya BM mengakhiri setiap ulasan dengan kata: "Begitu."

Dua judul pertama bikin saya menebak, pasti sampai akhir akan ada kata tersebut di setiap ulasan. Hingga tamat membaca buku ini, saya tersenyum "menang" sebab tebakan saya betul. penting😆

Sorotan lain adalah bagaimana BM menghindari penggunaan kata "yang". Rupanya kalau dianggap tak penting-penting amat, ibarat penggunaan "that" atau "which" dalam kalimat bahasa Inggris, dihilangkan pun tidak mengurangi arti. Tapi kadangkala terasa janggal saja, sebab kita harus serius membaca rangkaian kata agar bisa memahami maksud yang ingin disampaikan BM. Apalagi bahasannya kerap mengutip penggunaan bahasa Indonesia versi "masa lalu". Itulah mengapa saya perlahan betul membacanya, kadang tak rela akan ketiadaan kata "yang" dalam kalimat, yang berfungsi menyambungkan kata. Tapi barangkali itu soal kebiasaan bertutur saja. Selebihnya, tidak jadi soal. Sebab tidak selalu demikian. Masih banyak kalimat tetap menyematkan "yang," walau saya tidak sempatkan hitung. (Ya kali... baca sambil menghitung, habis waktu.😆)

Tulisan dan Kehormatan terbitan @bukukatta ini adalah kumpulan esai, mengulas tentang lomba menulis di masa lampau, ketika kita bahkan mungkin belum lahir. (Kita?😝 Iya, saya.)

Kegemaran BM mengoleksi, membaca, dan mengamati "literasi jadul" ini terbilang unik. Tidak banyak penulis yang bersedia repot-repot berburu bacaan bekas, demi untuk memuaskan keingintahuannya pada fenomena yang terjadi di masa silam. Dari buku ini kita jadi tahu Sapardi, Rendra, Arswendo, N. Riantiarno, dan sejumlah lain adalah jawara sayembara menulis ketika mereka masih muda (dan bergelora). Dikupas pula soal besaran hadiah, alasan di balik penyelenggaraan lomba, dan nama-nama pemenang yang masih eksis menulis hingga saat ini (Sanie B Kuncoro, contohnya.)

Yang menarik adalah kenyataan bahwa pengarang-pengarang besar tersebut jarang mencantumkan kemenangannya dalam biografi atau tulisan mengenai proses kreatif. (Hal. 91)
Masih di halaman yang sama, tertulis bahwa: "Predikat sebagai pemenang bisa menjadi pertimbangan penerbit. Sejarah kesusastraan di Indonesia mencatat bahwa sayembara berpengaruh dalam biografi dan kemunculan teks-teks sastra penting. Nh Dini pernah menang tapi cerpen itu jarang teringat oleh para pengagum atau pembaca. Cerpen tak mendapat penjelasan dari guru atau dosen saat mengajar sastra. Kita saja jarang mengingat pengarang-pengarang dengan menang-kalah dalam pelbagai sayembara. Mereka mungkin mengganggap itu hal penting tapi perlahan sengaja diabsenkan saat telah menjadi pengarang besar dan berlimpahan rezeki dari penerbitan buku-buku."

Begitu. Yang! 😁

Judul: Tulisan dan Kehormatan
Penulis: Bandung Mawardi
Jenis: Esai
ISBN: 976-623-7245-65-0
116 halaman: 13x20 cm
Penerbit: bukuKatta (Solo)

20210719_152751.jpg

H2
H3
H4
3 columns
2 columns
1 column
Join the conversation now
Logo
Center