Hello Hive friends, I hope you are all staying healthy and blessed. Greetings to all members of the GEMS community and our esteemed stakeholders.
In this post, I want to share our stories and experiences during the floods and landslides that struck our area two months ago. For weeks, we had to survive on blocked roads and dwindling staple foods.
Our staple food is rice; we need it for cooking and eating, but rice supplies in our area are dwindling. Rice is no longer available for sale in our local market, and rice farmers in our area are very few, as the majority of the population here are coffee farmers.
If we stay home and stay safe, our rice supply will probably only last for a week. In the meantime, we need to limit our food consumption, eating small portions of rice and limiting our meals to lunch and dinner—perhaps that's the best approach.
Other residents felt the same way. When we met and spoke, everyone felt the same way—they were also feeling panic. Even more worrying was that our main road to town had been cut off.
Meanwhile, the road was also submerged in floodwaters because the landslide had blocked the river's flow. If you had the energy, you could walk through the hills and plantations to get to town, but it would be very long and tiring.
Finally, after waiting several days, residents worked together to build a raft out of bamboo and open a road through the hills. The road was only as wide as a footpath, but they tried to make it passable for two-wheeled vehicles.
After waiting for days, I finally decided to leave the village and head for the city, as I hadn't been to my shop in town for weeks. I tried to check on our shop in town and was able to survive for a while, even though conditions weren't completely normal at that time.
We had to cross flooded roads with quite deep puddles, but thankfully, we had rubber boats and bamboo rafts. The rubber boats were used by residents to cross, while vehicles and goods were transported on bamboo rafts lined with drums for greater load-bearing capacity.
After about 100 meters on the boat, we faced another challenge. The next crossing required an alternative route through the hills. At this point, many vehicles and residents were already queuing to cross over the hills.
The path through the hills was very steep, with an incline that appeared to be less than 45 degrees. It was truly steep and steep, and we all had to overcome this challenge.
When it rains, this path becomes muddy and slippery, making it particularly difficult for the elderly to navigate, as it would be tiring. A few days earlier, a sick resident had to be transported to the city for intensive care. They traversed this path on a stretcher, carrying their child for about 300 meters on foot.
If you wish to bring a vehicle, only two-wheeled vehicles are permitted, and even then, there's a risk that the vehicle will no longer be in good condition, possibly with damage to the body and undercarriage. To ascend this path, your vehicle will be pulled and pushed by porters working at this point.
Of course, in this case, we have to pay the porters who carried and assisted our vehicle through this hilly road. They will be responsible for carrying our vehicle to the final crossing point.
After passing two challenging points on the road, we decided to rest at the final crossing due to exhaustion. Here, we began to feel relieved and calm after overcoming the challenges, as the road was now passable. Except for a few points ahead, the road was still passable by vehicles.
I feel calmer and happier after overcoming what I considered to be very tense challenges and days in the village. Ultimately, the process of survival and adopting the right attitudes and policies will get us out of difficult situations, and of course, we must face and resolve problems thoroughly.
Halo sahabat Hive semuanya, semoga anda selalu dalam keadaan sehat dan diberkati, salam kepad seluruh anggota komunitas GEMS dan para pemangku kepentingan yang terhormat.
Pada postingan ini saya ingin berbagi cerita dan pengalaman kami selama menghadapi bencana banjir dan tanah longsor yang melanda wilayah kami 2 bulan yang lalu. Selama berminggu-minggu kami harus bertahan hidup dengan akses jalan yang telah terputus dan bahan pangan pokok yang terus berkurang.
Makanan pokok kami adalah nasi, kami membutuhkan beras untuk memasak dan makan, tetapi stok beras di wilayah kami mulai berkurang. Beras tidak lagi ada di yang dijual di pasar lokal di tempat kami, sementara petani padi ditempat kami sangat minim, karena mayoritas penduduk di sini adalah petani kopi.
Jika bertahan dan berdiam diri di rumah, beras yang kami miliki mungkin hanya akan cukup bertahan untuk 1 minggu saja. Sementara itu, pengaturan penghematan konsumsi makanan harus dibatasi, makan nasi dengan porsi yang sedikit, membatasi makan hanya untuk siang dan malam, mungkin itu cara terbaik yang bisa dilakukan.
Hal yang sama juga dirasakan oleh warga yang lain, ketika kami bertemu dan berbicara, semua merasakan hal yang sama, mereka juga merasakan kepanikan. Hal yang lebih mengkhawatirkan adalah jalan utama kami untuk pergi ke kota telah terputus.
Sementara itu badan jalan juga telah terendam dengan air banjir karena tanah yang longsor telah menutupi aliran air sungai. Jika memiliki tenaga yang ekstra, kita dapat berjalan kaki melewati bukit-bukit dan perkebunan untuk pergi ke kota, tetapi itu akan sangat jauh dan melelahkan.
Akhirnya setelah menunggu beberapa hari, warga bergotong royong membuat rakit dari bambu dan membuka akses jalan melewati perbukita. Akses jalan dibuat hanya selebar jalan setapak, tetapi sebisa mungkin di paksakan untuk bisa dilalui oleh kendaraan roda dua.
Setelah menunggu berhari-hari, saya akhirny memutuskan untuk keluar dari desa dan pergi menuju ke kota, karena memang toko saya di kota sudah berminggu-minggu tidak saya datangi. Saya mencoba untuk mengecek toko kami yang ada di kota dan bisa bertahan hidup sementara waktu di kota, meskipun kondisi belum benar-benar normal pada waktu itu.
Kami harus melewati jalan yang banjir dengan genangan air yang cukup dalam, bersyukur pada waktu itu ada perahu karet dan rakit bambu. Perahu karet untuk digunakan penyeberangan warga, sementara kendaraan dan barang-barang di seberangi menggunakan rakit bambu yang telah dilapisi dengan drum, sehingga lebih tahan beban.
Setelah menaiki perahu sejarak sekitar 100 meter, didepan kami masih ada lagi tantangan, penyeberangan selanjutnya adalah harus melewati jalan alternatif melalui perbukitan. Di titik ini banyak kendaraan dan warga yang sudah mengantri untuk menyeberang melalui bukit ini.
Jalan setapak yang dibuat melewati perbukitan ini sangat terjal dengan kemiringan yang tampaknya kurang dari 45 derajat. Itu benar-benar sangat menanjak dan terjal, semua kita harus melewati tantangan ini.
Jika hujan, jalanan setapak ini akan becek dan licin, itu tampak sangat sulit dilewati oleh lansia, karena pasti akan melelahkan. Beberapa hari sebelumnya, ada juga warga yang sakit harus dirujuk ke kota untuk mendapatkan perawatan intensif, mereka melewati jalan ini dengan cara di tandu, membawanya berjalan kaki hingga sekitar 300 meter.
Jika ingin membawa kendaraan, hanya kendaraan roda dua yang dapat di lewati, itu pun dengan resiko bahwa kendaraan tidak akan lagi dalam kondisi yang bagus, bisa jadi ada kerusakan dibagian bodi dan bawah kendaraan. Untuk menaiki jalan ini, kendaraan kita akan ditarik dan didorong oleh para porter yang bekerja di titik lokasi jalan ini.
Tentu saja dalam hal ini kita harus membayar jasa porter yang telah membawa dan membantu kendaraan kita melewati jalan perbukitan ini. Mereka akan bertanggung jawab membawa kendaraan kita hingga ke titik terakhir penyeberangan.
Setelah melewati dua titik jalan yang penuh dengan tantangan, di titik penyeberangan terakhir kami memilih untuk beristirahat karena kelelahan. Di sini kami mulai merasakan lega dan tenang setelah melewati tantangan, karena berikutnya jalan sudah bisa dilewati hanya beberapa titik saja di depan dengan kondisi bekas jalan longsor, tetapi sudah bisa di lalui oleh kendaraan.
Saya merasa lebih tenang dan senang setelah melewati tantangan dan hari-hari yang menurut saya sangat mencekam di desa. Akhirnya, proses cara bertahan hidup dan pengambilan sikap dan kebijakan yang tepat akan mengeluarkan kita dari keadaan yang sulit, dan tentu masalah harus kita hadapi dan selesaikan hingga tuntas.
Butuh jasa papan bunga ? Pesan di Ranis Florist ! Untuk informasi lebih lanjut silahkan klik link di bawah ini !
That concludes my post, I hope you enjoy it...
All photos were taken with Iphone 11>>>
Edited With Lightroom>>>
Location Via https://worldmappin.com/ : [//]:# (!worldmappin 4.61059 lat 96.69954 long d3scr)