Bicara rezeki adalah bicara iman dan keyakinan, karena pada hakikatnya rezeki sudah Allah atur dan sudah ditetapkan jauh-jauh hari, hanya saja ada yang disegerakan, ada yang ditangguhkan, ada yang menunggu sebab-sebab ikhtiar untuk mendapatkannya.
Bisa jadi kesalahan dan pembangkangan dan mengabaikan perintah Tuhan sudah sedemikian banyaknya sehingga membuat rezeki menjadi terhalang dan ditangguhkan.
Ini bukan ceramah, tapi beberapa nasehat yang diberikan oleh seorang senior pada saat minum kopi tadi pagi di sela-sela jam istirahat. Diam-diam saya coba ingat apa saja poin yang dibicarakan, mengingat senior yang satu ini memang pintar dan alim, mendapatkan ilmu, wejangan gratis dan ilmu seperti ini memang sebuah manfaat tersendiri.
Bicara sambil ngopi seringkali berpindah-pindah tema dan topik, jadi sangat wajar jika hanya beberapa poin saja yang coba saya ingat dan rangkumkan mengenai masalah rezeki.
Urusan rezeki adalah urusan yang sangat misterius bagi saya, dalam rezeki yang kita miliki, ada yang menjadi jalan bagi rezeki orang lain, ada pula yang menjadi hak orang lain.
Rezeki di sini tidak diartikan dalam artian sempit sebatas uang sahaja. Rezeki itu bukan hanya sekedar uang, rasa aman, kenyamanan, tempat tinggal yang jauh dari peperangan dan kekacauan adalah rezeki yang sangat diingikan oleh jutaan orang di luar sana.
Kita sering terjebak dalam take it for granted, sehingga sudah menjadi biasa saja, padahal yang kita miliki dan nikmati adalah impian orang lain yang belum kesampaian.
Konon ada yang bilang, dunia ini hanya sepotong roti yang mengenyangkan, air dingin untuk diminum, pakaian yang melindungi dari panas dan dingin, serta tempat tinggal yang nyaman, jika seseorang sudah memiliki semua hal di atas, maka dia telah memiliki dunia.
Jadi, kesimpulannya adalah tiga poin yang coba saya rangkumkan dari diskusi dan perkataan senior sekaligus guru saya tadi yaitu;
Oh iya, Ilmu itu bisa diperoleh di mana saja dan kapan saja, Ilmu juga merupakan salah satu bentuk rezeki yang harus disyukuri.