Terlepas dari khasana ajaran Hindu, manusia pada dasarnya bertingkat-tingkat jika dilihat dari kesadaran atau kecenderungannya. Kesadaran atau kecenderungan ini beragam, ada yang kesadaran batu, ada kesadaran tumbuhan, dan ada kesadaran manusia. Kesadaran manusia memiliki tingkatan-tingkatan kesadaran, ada kesadaran tingkat materi hingga kesadaran tingkat rohani. Inilah maksud kasta yang ada pada manusia. Kasta-kasta yang berlaku di manusia bermakna level, drajat atau stratifikasi. Sehingga manusia memiliki kecenderungan pada kasta yang relevan sesuai dengan tingkat kesadaran arah pikiran manusia yang bersangkutan.
Untuk mempermudah pengertian di atas, istilah-istilah kasta dalam ajaran Hindu akan dipakai artinya hanya sebatas kata dan bukan pengertian secara harfiah dalam ajaran itu, seperti kasta barhma, kasta satriya, kasta waisya, dan kasta sudra semuanya hanya sebatas kata. Istilah kasta di sini bukan ditentukan oleh jabatannya dan juga bukan ditentukan oleh struktur sosial, tetapi dilihat dari mainset, tujuan, dan idiologi, dan pedoman hidup. Misal, seseorang yang tujuan hidupnya hanya semata-mata untuk tuhan walaupun ia seorang pemulung, kuli bangunan atau buruh pabrik maka ia berada di kasta brahmana, tapi sebaliknya, jika ia dalam hidupnya menggunakan mainset materi atau keuntungan maka ia masuk kasta waisyah (dagang) bahkan sudra meskipun ia seorang tokoh agama.
Berdasarkan konsep kasta di atas, tidak ada seorangpun yang secara utuh masuk kasta tertentu. Setiap orang memiliki kecenderungan masuk ke kasta-kasta yang ada. Ada kalanya seseorang mampu menjadi kasta brahma dan ada kalanya seseorang itu tiba-tiba masuk ke kasta sudra. Keadaan berganti-ganti kasta bagi setiap orang dianggap wajar karena hidup pada dasarnya bersifat dinamis. Keadaan berganti-ganti kasta dipengaruhi kecenderungannya masing-masing orang serta masalah yang dihadapi orang itu.
Kedudukan kasta brahma merupakan kasta tertinggi karena tujuan hidupnya didominasi oleh bentuk ketaqwaannya kepada tuhan. Kebanyakan orang secara naluriah menyadari kedudukan kasta brahma merupakan kasta tertinggi. Fitur-fitur dan syarat-syarat untuk menjadi kasta brahma menggiring seseorang mendapat kedudukan mulia di hadapan tuhan bahkan di hadapan sesama mahluk-mahluk tuhan yang lain. Kebanyakan orang menjunung tinggi seseorang yang dianggap telah mencapai kasta ini. Tidak heran kebanyakan orang berharap masuk wilayah kasta brahma.
Turun satu level dari kasta brahma yaitu kasta satriya. Kasta satriya di sini artinya orang-orang yang memiliki mainset, idiologinya atau tujuan hidupnya didominasi oleh bentuk perjuangan dan pengorbanan untuk obyek yang menjadi keperduliannya karena dirinya merasa memiliki dan menjadi bagian dari obyek itu, misal perjuangan atau pengorbanan untuk sesama, golongan, negara, bangsa, dan agama. Orang-orang ini sangat konsisten memperjuangkan idiologinya. Mereka tidak terlalu mengharapkan keuntungan dari obyek yang diperjuangkannya. Mereka rela berkorban demi idiologi yang diperjuangkannya. Terapan hidupnya mengarah pada pengabdian, pengayoman, pelayanan, perlindungan, dan pengamanan pada obyek eksternal dirinya yang menjadi fokus perjuangannya.
Level berikutnya setelah kasta satriya adalah kastra waisyah. Orang-orang yang masuk kasta waisyah arah pikiran mereka lebih didominasi oleh urusan tawar menawar untuk mendapatkan laba atau keuntungan. Mereka lebih piawai mengejar duniawi. Mereka sadar batasan-batasan bidangnya dalam mencari keuntungan artinya mereka tahu diri di mana wilayah yang pantas dimasuki dalam urusan mencari keuntungan materi. Kebanyakan mereka merupakan ahli di bidang perdagangan barang maupun jasa. Mereka memahami bidangnya dengan baik. Mereka memiliki kemampuan di atas rata-rata dalam urusan perdagangan dan mereka cenderung mencurahkan hidupnya untuk urusan dagang. Naluri mengejar keuntungan begitu kelihatan ketika berurusan dalam hal-hal jual beli barang dan jasa. Bukan berarti melihat kasta ini sebatas sebagai kaum pedagang saja, tapi secara terapan dalam menjalani hidupnya, mereka kebanyakan ber-mainset dagang, mereka memperlakukannya seolah-olah dalam situasi sedang tawar-menawar di dalam jual-beli. Bahkan falsafah hidupnya banyak menerapkan falsafah dagang. Kebanyakan dari mereka mainsetnya tentang keuntungan untuk dirinya bahkan urusan setelah duniawi (akhirat) tidak luput dari celah mainset keuntungan untuk dirinya, misal menjalankan ritual keagamaan tertentu dipercaya mampu mendatangkan keuntungan tertentu untuk dirinya.
Level berikutnya adalah kasta sudra. Kasta sudra hampir mirip dengan kasta waisyah yaitu sama-sama memikirkan keuntungan, perbedaan hanya terletak pada kesungguhan melangkah secara tepat untuk mendapat keuntungan artinya kasta sudra meprioritaskan mendapatkan keuntungan tapi tidak terlalu serius memperdulikan cara, etika atau kepantasan mendapatkan keuntungan, apapun dilakukan, yang terpenting mendapat keuntungan materi. Langkah hidupnya dipenuhi oleh kehendak kesenangan saja. Mereka dapat dikatakan pemalas secara harfiah, tapi juga dapat dikatakan pemalas mejalani kedisiplinan dalam mematuhi koridor-koridor kebenaran dan kebaikan. Mereka tukang mengambil jalan pintas atau tidak ingin susah payah tanpa memperdulikan kehormatan dan harga dirinya serta dampak kerugian yang ditimbulkan kepada yang lainnya bahkan dirinya sendiri.