You killed me on a journey.
Two murders.
The first was because I defended someone else.
Even though no one else knew you.
That's why I didn't accompany her.
In our conversation,
Not just her.
You don't deserve to call anyone a "dog."
Not even for anyone, even though their entire body and soul are engulfed in flames.
The second murder was for no apparent reason.
Other than you really wanted to kill.
Perhaps you wanted to test whether your trigger was still working.
I couldn't keep pressing the gas.
The earth had already descended and landed on my head.
Your dagger was already stuck in my chest.
But you didn't see the blood.
Our eyes met in silence.
Then you hugged me guiltily.
You burst into tears.
I don't know, maybe after this my life will return.
For you to kill again.
At our next meeting.
Along the Road, Wednesday, 26.02.26

Aku sudah kau bunuh dalam sebuah perjalanan
dua kali pembunuhan
pertama karena aku membela yang lain
padahal, orang lain tidak mengenalmu
makanya aku pun tidak menyertainya
dalam bait-bait percakapan kita
bukan hanya dia,
kamu tak pantas menyebut orang lain “anjing”
tidak untuk siapa pun meski seluruh tubuh
dan jiwanya sedang diselimuti api
Pembunuhan kedua tanpa alasan jelas
selain kamu memang ingin membunuh
mungkin ingin menguji pelatukmu masih berfungsi
Aku tak sanggup untuk terus menekan gas
bumi sudah turun dan jatuh di kepalaku
belatimu sudah menancap di dada
tapi kamu tidak melihat darahnya
Mata kita saling menatap dalam diam
lalu kamu memelukku dengan rasa bersalah
tangismu pecah
Entahlah, mungkin setelah ini nyawaku kembali
untuk kamu bunuh lagi
pada perrtemuan berikutnya
Sepanjang Jalan, Rabu 26.0226